liputan taput/informasi

"LUMPUR SIDOARJO" FENOMENA ALAM TERBESAR

Dikirim Oleh : Webmaster [Kamis, 01 Januari 1970]

Terjadinya peningkatan semburan lumpur di Sidoarjo telah banyak menimbulkan persoalan dari pengungsian, ganti rugi lahan terhadap desa yang terendam lumpur hingga terganggunya fasilitas umum. Kejadian tersebut membuat sejumlah peneliti dari berbagai instansi dan lembaga penelitian di dalam maupun luar negeri berkeinginan untuk membantu memberikan pandangannya mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada semburan lumpur di Sidoarjo. Untuk menyikapi hal tersebut sejumlah peneliti dari lembaga penelitian seperti BPPT, IAGI, LIPI dan sejumlah peneliti asing dari Jepang, Norwegia, dan Rusia mengadakan "International Geoligical Workshop on Sidoarjo Mud Vulcano" pada 20-21 Februari 2007 di Auditorium BPPT. Hadir pada acara tersebut Kepala BPPT Said D Jenie, Presdir IAGI Achmad Lutfi, Kepala Badan Geologi Bambang Dwiyanto, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebumian LIPI Herry Haryono, James Mori dari Kyoto University, Djadjang Sukarna Kepala Pusat Survei Geologi.

Workshop yang dibuka oleh Kepala BPPT bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian dan studi para ahli tersebut tentang penyebab terjadinya semburan lumpur hingga cara penanganan dan pengelolaan manajemen lumpur. Menanggapi pertanyaan para wartawan, Kepala BPPT mengatakan, "Terjadinya semburan lumpur Sidoarjo tidak hanya disebabkan oleh pengeboran tetapi bila dilihat dari jumlah lumpur yang begitu banyak dengan panas yang begitu tinggi dan tekanan yang begitu besar serta begitu lama, menurut saya tidak hanya karena satu suntikan kecil kemudian menyembur begitu lama." Dikatakan pula semburan tersebut dikarenakan terjadinya peristiwa geologi seperti gempa dan sebagainya.

Sementara itu seismolog, ahli gunung api dan ahli gempa dari Universitas Kyoto, James Jiro Mori, mengatakan, "gempa di Yogyakarta bukan merupakan penyebab terjadinya semburan lumpur di Sidoarjo.Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 yang berselang dua hari dari waktu semburan tidak mempunyai daya picu, lebih-lebih kecepatan respon sumur lain di wilayah tersebut tidak langsung terpicu dengan adanya gempa."

Dikatakannya pula,"Semburan lumpur tersebut merupakan fenomena terbesar yang pernah ditemui di dunia dan saat ini masih sulit melakukan estimasi kapan aktivitas semburan tersebut akan berakhir. Pada hari kedua, para peserta diskusi telah mengambil suatu kesepakatan. Hasil tersebut dipaparkan pada acara jumpa pers yang menghadirkan Kepala BPPT Said D Jenie, Kepala Pusat Survei Geologi Djadjang Sukarna, Presdir IAGI Ahmad Lutfi, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebumian LIPI Hery Haryono dan Edi Sunardi sebagai panitia penyelenggara.

Dalam acara tersebut Kepala BPPT menyampaikan hasil diskusi para peneliti nasional maupun internasional, yaitu lumpur Sidoarjo adalah fenomena alam berupa mud vulcano yang diketahui berasal dari kedalaman 1000-2000 meter dibawah permukaan. Lumpur mencapai permukaan akibat peristiwa alam yang sangat besar melalui bidang rekahan, peristiwa ini terjadi akibat aktivitas tektonik dan aspek-aspek geologi terkait terutama kondisi geohidrologi dan geotermal.

Pada kesempatan yang sama juga disampaikan kesimpulan teknis Geological Workshop on LUSI (Lumpur Sidoarjo) oleh Panitia Penyelenggara Edi Sunadi antara lain (1) LUSI adalah gejala erupsi gunung lumpur (mud vulcano). (2) LUSI terjadi di suatu wilayah yang terkenal sebagai wilayah yang secara sedimentasi tidak stabil dan secara tektonik aktif. (3) Secara ruang dan waktu terdapat hubungan sangat dekat antara gempa Yogyakarta dan semburan LUSI. (4) Secara keteknikkan pengeboran (drilling engineering) terdapat fakta-fakta yang inkonsistensi bila erupsi LUSI disebabkan oleh underground blow up, naiknya fluida melalui retakan akibat overpressure, dan diapir lumpur, penyebab yang mungkin adalah erupsi fluida melalui retakan besar yang dibuka oleh tektonik dan berhubungan dengan gempa. (5) Erupsi LUSI disebabkan oleh alam, sehingga kejadian ini merupakan bencana alam. Pemicunya adalah sangat erat berkaitan dengan gejala tektonik karena wilayah Banjar Panji terletak di daerah yang secara sedimentasi tidak stabil dan secara tektonik aktif; (6) Berdasarkan pengukuran GPS dan Remote Sensing (INSAR, ERSDAC) saat ini terjadi penurunan tanah secara sistematik di wilayah sekitar erupsi LUSI akibat keluarnya materi lumpur yang volumenya masih terus besar dan (7) Sumber air apakah air formasi yang terperangkap atau air meteorik dari recharge area akan menentukan berapa lama semburan ini akan berhenti, juga perhitungan massa lumpur yang dikeluarkan dan tekanannya.

sumber : http://www.bppt.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=54290&Itemid=30