50 partonun dari Tarutung, Sipoholon, Siatas Barita, dan Pahae Julu telah memulai langkah ini — dibekali pelatihan, pendampingan usaha, hingga akses pemasaran digital.


Limbah pertanian yang selama ini terbuang, kini menjadi harapan baru bagi ribuan penenun Tapanuli Utara.
‎Pelepah pisang hingga daun nanas bahan yang dulu tak bernilai — diolah menjadi benang tenun berkualitas melalui inovasi ECO-Ulos, hasil sinergi Dekranasda dan Diskoperindag Kabupaten Tapanuli Utara bekerjasama dengan Founder dan CEO PT Saree Jaya Indonesia (Saree Ulos), Juliana Sianturi.
‎Bagi masyarakat Batak, ulos bukan sekadar kain. Ia adalah identitas, warisan, dan sumber kehidupan. Kini, lebih dari 6.000 penenun di Taput punya peluang baru: penghasilan yang lebih baik, sekaligus turut menjaga kelestarian lingkungan.
‎50 partonun dari Tarutung, Sipoholon, Siatas Barita, dan Pahae Julu telah memulai langkah ini — dibekali pelatihan, pendampingan usaha, hingga akses pemasaran digital. Ke depan, mereka disiapkan menjadi pengusaha tenun mandiri yang mampu bersaing hingga pasar ekspor, didukung riset pewarnaan alam bersama BRIN dan IPB University.
‎Dari tangan-tangan penenun Taput, lahir wastra hijau yang membanggakan — bukti bahwa tradisi dan inovasi bisa berjalan beriringan demi masa depan yang lebih sejahtera.